Kamis, 12 Oktober 2017

Inilah Saya Bagi Keluarga dan Kontribusi yang Telah, Sedang dan Akan Saya Berikan Untuk Indonesia (BEASISWA BAZMA PERTAMINA)

Nama saya Fitri Nurhasanah, Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 Desember 1997. Dari kecil hingga saat ini telah mencapai umur 20 tahun, saya tinggal bersama kedua orangtua kandung dan empat saudara perempuan. Satu kaka dan tiga adik. Sejak kecil orangtua telah menanamkan pada diri saya untuk menjadi pribadi yang baik sesuai aturan agama. Oleh karena itu, orangtua selalu menyekolahkan saya di tempat pendidikan yang berbasis agama hingga saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dengan harapan, saya bukan hanya menjadi anak yang sekedar mempunyai gelar pendidikan tapi, juga harus menjadi anak yang memahami norma juga nilai-nilai dalam beragama dan bermasyarakat. Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya wirausaha dalam pembuatan kue dan di pasarkanya ke warung-warung kecil dan ibu saya hanya menjadi ibu rumah tangga. Untuk memenuhi keperluan pendidikan seperti, buku dan alat tulis lainnya, sejak duduk di bangku Sekolah Madrasah Ibtidaiyah hingga kuliah. Hati saya selalu tergerak untuk berusaha membantu orangtua dengan berjualan. Terkadang saya menjual kue yang dibuat Ayah dan menjual barang-barang lainnya seperti perlengkapan wanita. Dengan mengikuti beasiswa BAZMA ini saya berharap dapat membantu meringankan pengeluaran pendapatan orangtua yang masih harus membayar biaya adik-adik saya untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.
             Sejak duduk di bangku kelas lima, saya tergerak untuk mencari pengalaman lomba di luar sekolah. Saya mengikuti lomba puisi antar Madrasah Ibtidaiyah se-Jakarta. Namun, Allah berkehendak lain. Saya belum diizinkan untuk membawa piala kemenangan. Puji syukur, prestasi-prestasi saya dapatkan saat duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri 14, dari prestasi akademik maupun non akademik. Di Madrasah Aliyah setiap semester pihak guru memberikan penghargaan kepada setiap siswa per kelas yang berprestasi. Kelas sepuluh semester genap dan kelas sebelas semester ganjil, saya mendapatkan penghargaan masuk ke dalam peringkat 3 besar. Di bidang non akademik pun saya telah meraih piala penghargaan sebanyak tiga kali dalam perlombaan pidato islam. Saya bukan termasuk orang yang pintar. Hanya saja saya bertekad untuk terus maju dan mengejar pengalaman. Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah Negeri 14, saya dan orangtua memutuskan kuliah mengambil prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan memilih di Unindra karena biayanya yang tidak Terlalu mahal. Alasan saya mengambil prodi pendidikan Bahasa Indonesia karena sejak dari Madrasah Ibtidaiyah hingga lulus dari Madrsah Aliyah Negeri, nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia saya selalu condong lebih tinggi dari nilai lainnya, saya juga suka bebas berekspresi dalam berbahasa seperti, berpidato dan berpuisi. Selain itu, saya mengambil prodi Pendidikan. Agar suatu saat nanti ilmu saya bermanfaat untuk anak bangsa dan menjaga keutuhan dalam berbahasa Indonesia, tidak rapuh di koyak oleh zaman yang semakin kebarat-baratan.
 Di Universitas Indraprasta PGRI, sejak semester satu  hingga sekarang semester tiga saya aktif dalam organisasi Studi Kajian dan Riset Mahasiswa atau yang biasa disebut dengan SKEMA. Organisasi ini mewadahi dan menuntun anggotanya untuk mendalami ilmu tentang kepenulisan ilmiah. Menurut pengalaman saya sewaktu duduk di bangku Madrasah Aliyah, mengikuti organisasi sangatlah penting. Karena ilmu dalam kelas perkuliahan tidaklah cukup untuk kita menghadapi dunia luar yang beraneka ragam situasi dan manusianya. Menjadi orang yang aktif akan membantu kita untuk berkembang dan maju dalam hal sosial maupun intelektual. Meskipun saya aktif dalam berorganisasi tidak berpengaruh buruk terhadap indeks prestasi. Saya selalu mendapatkan indeks prestasi diatas 3. Selain itu, saya mempunyai pengalaman mengajar anak-anak selama kurang lebih satu tahun.
            Saya sebagai seorang mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia, sangat ingin membantu Indonesia dalam membentuk karakter juga pemikiran anak bangsa untuk menjaga dan melestarikan lambang negara Indonesia yaitu bahasa kesatuan Indonesia. Meskipun cukup banyak yang meremehkan program studi bahasa dan sastra Indonesia. Tapi, saya percaya dan yakin bahwa negara ini tidak akan menjadi negara yang majemuk dan saling mengerti antar suku. Jika rakyatnya tidak ingin belajar dan mengajarkan bahasa kesatuan Indonesia. Seorang sahabat Rasulullah SAW. Yaitu Ali Bin Abi Thalib berkata “Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar mereka berani menegakan kebenaran. Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar jiwa-jiwa mereka hidup. Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu. Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani”. Jika saya berkesempatan mendapatkan beasiswa BAZMA, saya ingin berkontribusi aktif dalam pendidikan dan penulis artikel agar masyarakat dapat merasakan manfaat dari ilmu yang telah saya tempuh selama pendidikan.
            Dengan adanya beasiswa Baituzzakah Pertamina ini, harapan saya semoga bisa membantu mahasiswa atau mahasiswi dalam menjalani pendidikannya di Perguruan Tinggi sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualitas untuk Indonesia.

#BEASISWA BAZMA