Nama
saya Fitri Nurhasanah, Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 Desember 1997.
Dari kecil hingga saat ini telah mencapai umur 20 tahun, saya tinggal bersama
kedua orangtua kandung dan empat saudara perempuan. Satu kaka dan tiga adik.
Sejak kecil orangtua telah menanamkan pada diri saya untuk menjadi pribadi yang
baik sesuai aturan agama. Oleh karena itu, orangtua selalu menyekolahkan saya
di tempat pendidikan yang berbasis agama hingga saya duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas. Dengan harapan, saya bukan hanya menjadi anak yang sekedar
mempunyai gelar pendidikan tapi, juga harus menjadi anak yang memahami norma
juga nilai-nilai dalam beragama dan bermasyarakat. Saya berasal dari keluarga
sederhana. Ayah saya wirausaha dalam pembuatan kue dan di pasarkanya ke
warung-warung kecil dan ibu saya hanya menjadi ibu rumah tangga. Untuk memenuhi keperluan pendidikan seperti, buku dan alat tulis lainnya, sejak duduk di
bangku Sekolah Madrasah Ibtidaiyah hingga kuliah. Hati saya selalu tergerak
untuk berusaha membantu orangtua dengan berjualan. Terkadang saya menjual kue yang dibuat Ayah dan
menjual barang-barang lainnya seperti perlengkapan wanita. Dengan mengikuti
beasiswa BAZMA ini saya berharap dapat membantu meringankan pengeluaran
pendapatan orangtua yang masih harus membayar biaya adik-adik saya untuk
memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Sejak duduk di bangku kelas lima, saya
tergerak untuk mencari pengalaman lomba di luar sekolah. Saya mengikuti lomba
puisi antar Madrasah Ibtidaiyah se-Jakarta. Namun, Allah berkehendak lain. Saya
belum diizinkan untuk membawa piala kemenangan. Puji syukur, prestasi-prestasi
saya dapatkan saat duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri 14, dari prestasi
akademik maupun non akademik. Di Madrasah Aliyah setiap semester pihak guru memberikan
penghargaan kepada setiap siswa per kelas yang berprestasi. Kelas sepuluh
semester genap dan kelas sebelas semester ganjil, saya mendapatkan penghargaan
masuk ke dalam peringkat 3 besar. Di bidang non akademik pun saya telah meraih
piala penghargaan sebanyak tiga kali dalam perlombaan pidato islam. Saya bukan
termasuk orang yang pintar. Hanya saja saya bertekad untuk terus maju dan
mengejar pengalaman. Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah Negeri 14, saya dan orangtua memutuskan
kuliah mengambil prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan memilih di Unindra
karena biayanya yang tidak Terlalu mahal. Alasan saya mengambil prodi pendidikan Bahasa
Indonesia karena sejak dari Madrasah Ibtidaiyah hingga lulus dari Madrsah
Aliyah Negeri, nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia saya selalu condong lebih
tinggi dari nilai lainnya, saya juga suka bebas berekspresi dalam berbahasa
seperti, berpidato dan berpuisi. Selain itu, saya mengambil prodi Pendidikan.
Agar suatu saat nanti ilmu saya bermanfaat untuk anak bangsa dan menjaga
keutuhan dalam berbahasa Indonesia, tidak rapuh di koyak oleh zaman yang
semakin kebarat-baratan.
Di Universitas Indraprasta PGRI, sejak
semester satu hingga sekarang semester
tiga saya aktif dalam organisasi Studi Kajian dan Riset Mahasiswa atau yang
biasa disebut dengan SKEMA. Organisasi ini mewadahi dan menuntun anggotanya
untuk mendalami ilmu tentang kepenulisan ilmiah. Menurut pengalaman saya
sewaktu duduk di bangku Madrasah Aliyah, mengikuti organisasi sangatlah
penting. Karena ilmu dalam kelas perkuliahan tidaklah cukup untuk kita
menghadapi dunia luar yang beraneka ragam situasi dan manusianya. Menjadi orang
yang aktif akan membantu kita untuk berkembang dan maju dalam hal sosial maupun
intelektual. Meskipun saya aktif dalam berorganisasi tidak berpengaruh buruk
terhadap indeks prestasi. Saya selalu mendapatkan indeks prestasi diatas 3.
Selain itu, saya mempunyai pengalaman mengajar anak-anak selama kurang lebih
satu tahun.
Saya sebagai seorang mahasiswa
pendidikan bahasa Indonesia, sangat ingin membantu Indonesia dalam membentuk
karakter juga pemikiran anak bangsa untuk menjaga dan melestarikan lambang
negara Indonesia yaitu bahasa kesatuan Indonesia. Meskipun cukup banyak yang
meremehkan program studi bahasa dan sastra Indonesia. Tapi, saya percaya dan
yakin bahwa negara ini tidak akan menjadi negara yang majemuk dan saling
mengerti antar suku. Jika rakyatnya tidak ingin belajar dan mengajarkan bahasa kesatuan Indonesia. Seorang sahabat Rasulullah SAW. Yaitu Ali Bin Abi Thalib
berkata “Ajarkanlah sastra pada
anak-anakmu, agar mereka berani menegakan kebenaran. Ajarkanlah sastra pada
anak-anakmu, agar jiwa-jiwa mereka hidup. Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu.
Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani”. Jika saya
berkesempatan mendapatkan beasiswa BAZMA, saya ingin berkontribusi aktif dalam
pendidikan dan penulis artikel agar masyarakat dapat merasakan manfaat dari
ilmu yang telah saya tempuh selama pendidikan.
Dengan adanya beasiswa Baituzzakah
Pertamina ini, harapan saya semoga bisa membantu mahasiswa atau mahasiswi dalam
menjalani pendidikannya di Perguruan Tinggi sehingga menjadi sumber daya
manusia yang berkualitas untuk Indonesia.
#BEASISWA
BAZMA